SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU

SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU
TEMPLATE

Minggu, 12 Oktober 2014

PAHLAWAN BANGSA DARI SUDAJI

Puputan Margarana adalah pertempuran yang terjadi pada tanggal 20 Nopember 1946 di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Pada saat itu rakyat Bali di bawah kepemimpinan I Gusti Ngurah Rai (Pahlawan Nasional) menyerang habis-habisan melawan pasukan Belanda. Banyak rakyat dan pasukan Bali yang gugur dalam perang tersebut.

Diantara para pejuang yang gugur di Marga, ada 3 orang prajurit yang berasal dari Desa Sudaji, Mereka adalah :
                             1.  I Ketut Cakra (Pan Tangsi)
                             2.  I Wayan Repa (Pan Derian)
                             3.  I Nengah Sudana (Dana)

Ketiga tugu peringatan para pahlawan tersebut dapat ditemukan di antara ribuan tugu pahlawan di komplek Taman Makam Pahlawan Pujaan Bangsa, di Desa Marga, Tabanan, Bali.

 Tugu utama Taman Makam Pahlawan di Marga

 Patung perjuangan para pahlawan Puputan Margarana

  
Salah satu tugu peringatan para pejuang Puputan Margarana dari Sudaji
 

 Deretan tugu peringatan para pejuang, semua berbentuk sama dan ada label nama pejuang di masing-masing tugu

 I KT. Tjakera (I Ketut Cakra), pejuang asal Sudaji

 WJ. REPO (I Wayan Repa), pejuang dari Sudaji

 ING. SEDANA (I Nengah Sedana/Sudana) pejuang dari Sudaji

 Daftar nama para pejuang sebanyak 1.372 orang. Terpampang di halaman pintu masuk Taman Makam Pahlawan Pujaan Bangsa

 Tampak nama pejuang/prajurit dari Sudaji (tanda panah)

 Nama pejuang Sudaji diabadikan diantara deretan nama pejuang lainnya (tanda panah)



Sabtu, 11 Oktober 2014

RUMAH TRADISIONAL SUDAJI

Meskipun perekonomian penduduk Desa Sudaji sudah meningkat, namun ada beberapa warga yang masih mempertahankan model rumah pada zaman dulu ala gaya Sudaji. Halaman hanya berlantai tanah, tembok rumah yang masih sederhana tanpa dikuliti sehingga susunan batubatanya masih kelihatan jelas. Demikian juga tata letaknya yang masih menggunakan pakem tradisional.

Rumah tradisional ini terletak di Munduk Bunter, Dusun Kaje Kauh, milik Jro Bendesa Lingsir. Di kelilingi dengan persawahan dan perbukitan di sebelah selatan. Sangat adem dan tenang kalau berkungjung ke sana. Untuk mencapai tempat ini, kita harus berjalan kaki lebih kurang 15 menit dari Pura Pelukatan atau Dusun Dukuh atau Dusun Sanda Kaje Kauh.

Gapura dan tangga dari batu granit yang ditata sangat sederhana untuk memasuki rumah 


 Tampak halaman dan beberapa bangunan yang berkesan kuno namun bersahaja

 Bangunan utama berupa Bale Daja dimana anggota keluarga berkumpul, mengadakan pertemuan dan beristirahat.

 Dapur atau 'paon' yang masih menggunakan kayu api.

 Sanggah atau tempat sembahyang bagi penghuni rumah terletak di sebelah Tenggara

Bangunan tempat menyimpan kayu bakar, juga sebagai 'gelogor' untuk memelihara babi.