SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU

SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU
TEMPLATE

Rabu, 24 September 2014

BENDUNGAN ABANGAN

Di hulu Desa Sudaji dimana mengalir air sungai sepanjang tahun, tepatnya di daerah Abangan (sebelah selatan Ganda Meru) terdapat bendungan air (dam) yang sangat bermanfaat fungsinya bagi petani di Sudaji. Bendungan ini membagi air yang sumbernya dari Lemukih untuk mengairi sawah di bagian barat Sudaji, seperti Benyah, Sanda, Celuk, Kaja Kauh, Singkung dan sekitarnya. Nama bendungan ini adalah Bendung Sanda. Namun warga lebih mengenal dengan sebutan Dam Abangan karena letaknya di dusun Abangan. Di tempat ini sering digunakan sebagai tempat melepas lelah dan beristirahat atau berteduh karena perjalanan jauh. Alam sekitarnya yang sejuk dan indah menjadikan tempat ini sebagai objek wisata dan dapat menghibur hati para pelancong.


 Pintu air di bagian barat bendungan yang mengalirkan air ke wilayah Sudaji barat (Dauh Yeh)

 Hulu bendungan yang airnya jernih kelihatan seperti telaga, airnya sejuk dan segar.

 Bendung Sanda area 70 Ha

 Bendung Sanda di kaki bukit Sudaji. Di musim hujan air sungai sangat melimpah. Sekali waktu dapat terjadi banjir.

 Tanaman Jengger Ayam (Celosia cristata) yang banyak tumbuh liar di sekitar sungai

Sebuah pohon Ara (ficus carica) yang tumbuh besar di depan dam Abangan

Selasa, 23 September 2014

PURA TIING

Pura Tiing atau Pura Bambu adalah nama pura yang letaknya di atas bukit Sudaji. Karena adanya pohon bambu yang tumbuh rimbun di sebelah timur pelinggih dan menaungi tempat ini, maka pura ini disebut Pura Tiing (Bambu). Tempat ini juga merupakan perbatasan antara bukit Sudaji dan Bukit Silangjana. Dari pura ini perjalanan ke Pura Cemara Geseng diperlukan sekitar 30 menit lagi.


 Tampak depan Pura Tiing

 Pelinggih Pura Tiing dengan beberapa patung yang dikeramatkan

 Tampak belakang Pura Tiing

Halaman Jeroan Pura Tiing dengan pohon bambu yang merindangi pura

Sebuah papan larangan dari pemerintah untuk melindungi kawasan ini dari perusakan alam oleh manusia

PENGRAJIN GULA AREN

Ketut Restiawan adalah sosok laki-laki yang sederhana dan tinggal di puncak bukit Sudaji, sekitar daerah Jambul bukit Sudaji (merupakan  wilayah Dusun Kajekauh) . Pekerjaannya adalah membuat gula aren dan sudah ditekuninya dari kecil. Kalau sudah jadi maka pengepulnya akan mengambil gulanya untuk dijual ke pasar Sudaji. Untuk per kilo harga gula aren bisa mencapai Rp. 15.000,-
 Tempat membuat gula aren yang sekaligus sebagai dapur

 Gubuk Restiawan di depan dapurnya, yang letaknya dipinggir jalan setapak menuju Pura Bukit Cemara Geseng

 Ketut Restiawan yang bersahaja sedang bersantai di pondoknya yang terbuat dari kayu

Penggorengan besar untuk membuat gula aren. Masih terlihat berupa cairan dari air pohon enau (Tuak manis)

MUNDUK BUNTER

Sesuai dengan namanya, Munduk Bunter adalah suatu kawasan persawahan yang bentuknya seperti bundaran atau dalam bahasa lokal (Bali) disebut "bunter". Memang area disini dikelilingi berbentuk setengah lingkaran oleh aliran sungai Sudaji (Sungai Penarukan) sehingga kalau dari atas tempat ini seperti lingkaran. Pemandangan dari tempat ini sangat indah dengan hamparan sawahnya yang berundak-undak, pohon nyiur melambai dilatar belakangi dengan Bukit Sudaji. Tempat yang paling bagus untuk menyaksikan tempat ini adalah dari dusun Dukuh memandang ke arah selatan.
 Munduk Bunter terlihat dari bawah dekat sungai

 Munduk Bunter dengan segala keindahannya dari ketinggian tempat di dusun Dukuh

Sungai Sudaji (Sungai Penarukan) yang melingkari persawahan Munduk Bunter

Pohon nyiur melambai seakan mengundang pengunjung untuk menikmati keindahannya.

Rabu, 17 September 2014

PURA TIRTA SELAKA

Pura Tirta Selaka terletak di sisi jalan menuju Singkung dari arah Dusun Dukuh, berdekatan dengan jembatan di persimpangan (pertigaan) Singkung, Kajekauh dan Dukuh. Pada pura ini terdapat air jernih yang mengalir dari dalam tanah yang merupakan sumber air bersih.

 Pura Tirta Selaka terlihat dari arah utara, sebelah kiri

 Bangunan pura yang kecil dan sederhana, namun memiliki arti penting bagi warga sekitar, terutama air jernih yang disucikan.

 Tampak pura dari selatan 

Air yang mengalir jernih. Disini banyak warga memanfaatkannya sebagai tirta dan juga untuk dikonsumsi.

Senin, 01 September 2014

PURA BUKIT MADIA

Pura Bukit Madia terdapat di dusun Sanda (Kaja Kauh) Desa Sudaji, dengan ketinggian kira-kira 600 meter diatas permukaan laut. Untuk mencapai tempat ini, kita harus melewati jalan tanjakan yang berundak-undak dan dapat ditempuh sekitar 15 menit dari Sanda. Di pura ini terdapat pohon beringin yang rindang menaungi halaman Jeroan, sehingga tampak sejuk.

 Tampak depan Pura Bukit Madia Desa Sudaji.

 Dua patung harimau sebagai penjaga gerbang pelinggih di Jeron

 Tampak halaman di Jeroan dengan pohon beringin ditengahnya

 Jaba tengah Pura Bukit Madia

 Tiga orang anak yang tinggal di sekitar pura akan mencari dedaunan untuk makanan ternaknya. 

Pemandangan yang indah di sebelah timur Pura Bukit Madia

PURA CEMARA GESENG

Pura Cemara Geseng terletak di ketinggian 1.084 meter diatas permukaan laut. Nama Cemara Geseng (Casuarina junghuhniana Miq) mengacu kepada pohon cemara atau pinus yang tumbuh di tempat ini.  Bukit tempat pura ini berdiri termasuk wilayah Desa Silangjana. Namun pura ini di "sungsung" oleh tiga desa, yaitu Desa Silangjana, Desa Sudaji dan Desa Lemukih. Untuk mencapai puncak bukit ini banyak jalur bisa dilalui, baik dari arah barat (Silangjana), arah timur (Lemukih) arah utara (Sudaji) atau arah selatan (Pegadungan/Lemukih). Ditengah halaman pura ini terdapat tonggak atau orang-orang menyebutnya "Pal" yang konon dibangun oleh pemerintah Belanda pada masa kolonial untuk menandai puncak bukit ini. Banyak cerita tentang "Pal" ini yang bentuknya menyerupai tugu dengan ketinggian kira-kira 2 meter. Namun kini Pal ini dikeramatkan warga, terbukti dengan adanya sesajen yang dihaturkan oleh para pemedek.



Jalan menuju puncak bukit Cemara Geseng terlihat dari arah utara.

 Bibit Cemara Geseng yang masih muda yang ditanam di sekitar jalan menuju puncak bukit 

Tampak candi bentar, rumah gong dan pohon leci yang tumbuh besar di depan Pura Cemara Geseng.

Halaman Pura Cemara Geseng
Bangunan Rumah Gong Pura Cemara Geseng

 Beberapa pelinggih yang terdapat di Pura Pucak Cemara Geseng.

 Petirtaan di sebelah bawah selatan Pura Cemara Geseng. Dari bawah pohon pakis menetes  air  alami. 



Pohon Cemara Geseng yang tumbuh besar di sekitar pura.

Bangunan  Piasan dan Pelinggih di Pura Cemara Geseng, terlihat dari selatan.