SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU
TEMPLATE
Kamis, 09 April 2015
OGOH-OGOH SUDAJI 2015
Pada Hari Raya Nyepi tahun Caka 1937 ini kelihatan perayaan Nyepi ini sangat semarak terutama saat Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) karena ada lomba ogoh-ogoh yang diikuti masing-masing banjar. Setelah lomba, semua ogoh-ogoh yang jumlahnya puluhan dari kalangan anak-anak, remaja dan dewasa mengarak kreasi ogoh-ogoh mereka keliling desa. Penontonpun tumpah ruah, sangat antusias menyaksikan event sekali setahun tersebut. Berikut kreasi ogoh-ogoh Sudaji tahun 2015 tersebut...
Jumat, 20 Februari 2015
BAPAK KETUT TOKO
Beliau adalah tokoh seniman ukir yang sangat terkenal tidak saja di Sudaji, tetapi juga diluar desa Sudaji. Karya-karyanya yang berupa ukiran baik itu kayu atau pasir hitam (bias melela) banyak menghiasi rumah-rumah atau tempat suci. Gaya ukirannya tergolong istimewa dan sulit diikuti oleh seniman lain. Banyak orang menganggap hasil karyanya "metaksu".
Sosok Bapak Toko yang bersahaja
Bapak Toko mendedikasikan seluruh hidupnya sebagai seniman. Profesi yang dilakoninya ini sudah dimulai saat usia remaja hingga kini. Di umurnya yang saat ini lebih dari 70 tahun, beliau masih tetap energik memainkan pahatnya dan "pemotok" (palu kayu untuk mengukir). Saat bekerja menyelesaikan karya seninya, beliau sangat menikmati dan menjiwai pekerjaannya. Mungkin karena penjiwaannya itu, karya-karyanya sangat mengagumkan dan metaksu.
Bapak Toko sedang mengerjakan pesana ukiran
Rumahnya yang sekaligus sebagai studionya tampak sederhana, terletak dipinggir jalan raya Kajekangin-Ceblong, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan Buleleng. Hampir tidak ada karya seni yang menjadi koleksi pribadinya, karena semua terjual atau dikoleksi orang lain. Karena talentanya yang luar biasa, banyak orang ingin belajar mengukir kepada Bapak Toko, dan sudah banyak terlahir generasi penerus berkat bimbingan dan binaan beliau.
Salah satu hasil karya Bapak Toko berupa ukiran bias melela
Beberapa anak buah binaan Bapak Toko yang kini sudah profesional sebagai tukang ukir
Patung singa dari kayu hasil karya Bapak Ketut Toko
Bapak Ketut Toko sedang mengerjakan patung singa dari pasir melela di wantilan Sudaji bersama anak buahnya
Jumat, 16 Januari 2015
BAPAK I MADE MENDRA
Beliau adalah sosok sekaligus tokoh yang sangat terkenal pada masa pembangunan di Desa Sudaji antara tahun 1953 sampai 1966. Kiprah beliau dalam memajukan pembangunan desa berupa sarana dan prasarana pada masa itu sangat visioner dan pantang menyerah meskipun keadaan ekonomi desa kurang mendukung pada saat itu. Namun berkat kegigihan dan perjuangan yang tak kenal menyerah, semua itu dapat terwujud dengan dukungan masyarakat.
Almarhum Bapak I Made Mendra
Untuk lebih mengenal sosok beliau, bisa dengan menanyakan kepada orang tua yang sejaman dengan beliau. Berkat ketokohannya, kita saat ini dapat menikmati hasil pembangunan di Desa Sudaji.
Minggu, 30 November 2014
BARIS BONGKOL
Baris Bongkol adalah salah satu tarian sakral dari Sudaji yang ditampilkan oleh pria dewasa. Tarian ini khusus dipakai saat mengiringi upacara Pitra yadnya (Ngaben/Kremasi). Para penari berasal dari keluarga tertentu yang umumnya bakat ini diwariskan turun temurun. Konon penari Baris Bongkol dipercaya sebagai penunjuk jalan bagi arwah yang mayatnya akan dikremasi. Penampilan dan gaya pakaian Baris Bongkol Sudaji sangat unik, demikian juga make up wajahnya, dan masing-masing penari membawa senjata seperti tombak, sabit, golok atau kapak. Kesan magis dan sakral terpancar saat mereka menarikan tarian Baris Bongkol.
Baris Bongkol Sudaji dengan aksesoris pakaian yang unik
Penari Baris Bongkol mengawal di depan prosesi dengan mengibaskan senjata sabit sebagai simbol membuka jalan.
Penari Baris Bongkol mengawal Bade/Wadah sebagai simbol pengaman dari gangguan niskala
Salah seorang penari Baris Bongkol sedang beraksi menari di depan petulangan
Empat penari Baris Bongkol seusai menampilkan tarian sakral di kuburan Sudaji
NGABEN
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat (kremasi) yang dilakukan oleh warga Sudaji sebagai wujud salah satu yadnya atau korban suci yaitu Pitra Yadnya. Pada saat upacara ini, warga yang melakukan hajatan ini membuat "wadah" atau "bade" yang dibuat dengan sangat bagus penuh ukiran khas Bali, kemudian pada hari H, "wadah" ini diusung ke kuburan untuk dibakar bersama "sawa" atau mayat. Rangkaian upacara ini sangat panjang dan penuh aktivitas ritual sampai tuntas. Biayanya pun terbilang mahal. Namun untuk menghemat biaya, dapat dilakukan secara massal dan bentuk sarana ritualnya pun bisa disederhanakan.
Suasana prosesei Ngaben dari Sanda-Sudaji
Bade diusung beramai-ramai melewati Pura Pelukatan
Bade/Wadah sampai di Catus Pata (Pempatan Agung) Sudaji
Antusiasme warga yang ingin menyaksikan upacara Ngaben di pasar Sudaji
Di depan Pura Dalem Sudaji, Bade/Wadah berputar 3 kali yang merupakan ritual wajib
Di kuburan Sudaji Bade/Wadah diarak mengelilingi halaman setra (kuburan)
Petulangan saat dibakar bersama "sawa" (mayat)
Bade/Wadah dibakar pada akhir rangkaian ritual Pitra yadnya.
Minggu, 12 Oktober 2014
PAHLAWAN BANGSA DARI SUDAJI
Puputan Margarana adalah pertempuran yang terjadi pada tanggal 20 Nopember 1946 di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Pada saat itu rakyat Bali di bawah kepemimpinan I Gusti Ngurah Rai (Pahlawan Nasional) menyerang habis-habisan melawan pasukan Belanda. Banyak rakyat dan pasukan Bali yang gugur dalam perang tersebut.
Diantara para pejuang yang gugur di Marga, ada 3 orang prajurit yang berasal dari Desa Sudaji, Mereka adalah :
1. I Ketut Cakra (Pan Tangsi)
2. I Wayan Repa (Pan Derian)
3. I Nengah Sudana (Dana)
Ketiga tugu peringatan para pahlawan tersebut dapat ditemukan di antara ribuan tugu pahlawan di komplek Taman Makam Pahlawan Pujaan Bangsa, di Desa Marga, Tabanan, Bali.
Diantara para pejuang yang gugur di Marga, ada 3 orang prajurit yang berasal dari Desa Sudaji, Mereka adalah :
1. I Ketut Cakra (Pan Tangsi)
2. I Wayan Repa (Pan Derian)
3. I Nengah Sudana (Dana)
Ketiga tugu peringatan para pahlawan tersebut dapat ditemukan di antara ribuan tugu pahlawan di komplek Taman Makam Pahlawan Pujaan Bangsa, di Desa Marga, Tabanan, Bali.
Tugu utama Taman Makam Pahlawan di Marga
Patung perjuangan para pahlawan Puputan Margarana
Salah satu tugu peringatan para pejuang Puputan Margarana dari Sudaji
Deretan tugu peringatan para pejuang, semua berbentuk sama dan ada label nama pejuang di masing-masing tugu
I KT. Tjakera (I Ketut Cakra), pejuang asal Sudaji
WJ. REPO (I Wayan Repa), pejuang dari Sudaji
ING. SEDANA (I Nengah Sedana/Sudana) pejuang dari Sudaji
Daftar nama para pejuang sebanyak 1.372 orang. Terpampang di halaman pintu masuk Taman Makam Pahlawan Pujaan Bangsa
Tampak nama pejuang/prajurit dari Sudaji (tanda panah)
Nama pejuang Sudaji diabadikan diantara deretan nama pejuang lainnya (tanda panah)
Sabtu, 11 Oktober 2014
RUMAH TRADISIONAL SUDAJI
Meskipun perekonomian penduduk Desa Sudaji sudah meningkat, namun ada beberapa warga yang masih mempertahankan model rumah pada zaman dulu ala gaya Sudaji. Halaman hanya berlantai tanah, tembok rumah yang masih sederhana tanpa dikuliti sehingga susunan batubatanya masih kelihatan jelas. Demikian juga tata letaknya yang masih menggunakan pakem tradisional.
Rumah tradisional ini terletak di Munduk Bunter, Dusun Kaje Kauh, milik Jro Bendesa Lingsir. Di kelilingi dengan persawahan dan perbukitan di sebelah selatan. Sangat adem dan tenang kalau berkungjung ke sana. Untuk mencapai tempat ini, kita harus berjalan kaki lebih kurang 15 menit dari Pura Pelukatan atau Dusun Dukuh atau Dusun Sanda Kaje Kauh.
Rumah tradisional ini terletak di Munduk Bunter, Dusun Kaje Kauh, milik Jro Bendesa Lingsir. Di kelilingi dengan persawahan dan perbukitan di sebelah selatan. Sangat adem dan tenang kalau berkungjung ke sana. Untuk mencapai tempat ini, kita harus berjalan kaki lebih kurang 15 menit dari Pura Pelukatan atau Dusun Dukuh atau Dusun Sanda Kaje Kauh.
Gapura dan tangga dari batu granit yang ditata sangat sederhana untuk memasuki rumah

Tampak halaman dan beberapa bangunan yang berkesan kuno namun bersahaja
Bangunan utama berupa Bale Daja dimana anggota keluarga berkumpul, mengadakan pertemuan dan beristirahat.
Dapur atau 'paon' yang masih menggunakan kayu api.
Sanggah atau tempat sembahyang bagi penghuni rumah terletak di sebelah Tenggara
Bangunan tempat menyimpan kayu bakar, juga sebagai 'gelogor' untuk memelihara babi.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


































































