Ngaben Masal tahun ini sebanyak 285 sawe dari berbagai keluarga/Dadia/pemilet se desa Sudaji. Upacara Ngaben Masal ini dipusatkan di alun-alun Sudaji dan puncak karya Ngaben dilaksanakan tanggal 15 September 2018. Hadir pula menyaksikan proses upacara ini adalah Bapak Camat Sawan Drs. I Gusti Ngurah Suradnyana pada saat Pedeengan tanggal 14 September 2018.
SUDAJI KAMPUNG HALAMANKU
TEMPLATE
Selasa, 18 September 2018
Kamis, 06 September 2018
TARI REJANG RENTENG DESA PAKRAMAN SUDAJI
Pada piodalan Karya Desa di Pura Bale Agung Desa Adat Pakraman Sudaji tanggal 28 Juli 2018 lalu, untuk pertama kalinya, sekelompok ibu-ibu mempersembahkan Tari Rejang Renteng yang lagi berkembang dan ngetrend di Bali.
Tari Rejang Renteng adalah salah satu bentuk tari wali atau sakral yang hanya dipentaskan pada saat piodalan di pura. Busana tari ini sangat sederhana namun elegan dan rapi yaitu kebaya putih dan bawahan warna kuning. Gerakannya juga cukup sederhana dan khidmat dan tidak agresif. Tari Rejang Renteng dibawakan oleh kaum ibu-ibu yang umumnya di suatu desa dibentuk dari grup ibu-ibu PKK. Tentu saja tujuannya adalah untuk ngayah dan sebagai persembahan bhakti kepada Dewa-dewi.
Gerak utama pada tarian ini disebut Nyalud dan Ngelung. Nyalud adalah gerak
tangan yang mengarah kedalam dengan kedua lengan menutup dan membuka di depan
dada dan posisi kaki secara bergantian kanan dan kiri berada di depan.
Sedangkan Ngelung adalah gerakan merebahkan diri ke kanan dan ke kiri disertai satu
tangan lurus ke samping dan satu menekuk ke arah dada. Pada bagian akhir pada
tarian ini dinamakan memande, yakni gerakan dalam bentuk melingkar
(renteng), di mana para penari memegang selendang penari lainnnya yang
ada di depannya membentuk lingkaran yang tak putus.
Rejang Renteng kini hampir di
masing-masing desa membangkitkannya. Selain sebagai tari wali yang
berfungsi untuk pangider bhuana, juga tergolong tarian sakral.
Rejang Renteng adalah satu jenis tarian yang
dilakukan secara berkelompok dengan jumlah yang cukup banyak, pakainnya
sangat sederhana, menggunakan sebuah selendang yang lebih panjang di pinggang.
Para penari diikat dalam suatu rangkaian yang disebut dengan renteng,
menggunakan benang berwarna putih. Sedangkan ciri khusus tarian ini,
lanjutnya, sebagai pangider bhuana di pura yang dihaturkan sebuah upkara,
yakni berupa sebuah jempana sebagai lingggih Ida Bhatara yang dituntun oleh
mereka.
Tari Rejang Renteng memberikan makna
kepada semua orang yang ada di bumi ini untuk melepas ego pribadi. Setiap orang
harus mencapai bagian terbaik dan harus menyamakan ritme dengan orang lain di
lingkungannya, tanpa ada rasa iri dan dengki, tanpa saling mendahului
(tanpa persaingan), sehingga menjadi pribadi penuh kasih dan siap saling
membantu menuju jalan yang diberkati Tuhan. Tari Rejang Renteng berasal dari
Nusa Pendiam, Banjar Saren, Klungkung. Renteng berasal dari kata rente yang
berarti tua. Rejang Renteng ditarikan oleh orang yang sudah kawin (tua).
Tua mempunyai arti luas, yaitu
dilihat dari gerakannya yang halus, keharmonisan antara musik dan gerakannya,
kostum yang sederhana serta tidak memakai gelungan, hanya memakai bunga jepun,
sanggul Bali, baju kebaya putih polos kutu baru tangan panjang, kain kuning, dan selendang kuning. Aslinya
memakai tapih putih, musiknya sederhana tidak banyak kotekan (polos), halus,
ritmis, dan dinamis.
Kamis, 26 April 2018
TUBING DI SUNGAI SUDAJI
Selain rafting, mengarungi sungai dengan ban mobil alias tubing juga sangat mengasyikkan. Kita hanya mengikuti arus air kemana kita dihanyutkan. Tentu saja sekali-sekali kaki dan tangan dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan atau keamanan dan keselamatan kita. Laju tidaknya tubing hanya kita yang dapat mengendalikannya seorang diri.
Pokdarwis Desa Sudaji sudah mengembangkan wisata tubing ini sejak beberapa waktu lalu setelah diujikan pula aktifitas rafting. Beberapa alur yang dapat dipakai tubing diantaranya adalah sungai utama Sudaji. Namun belakangan ini, karena faktor efisiensi dan kepraktisan aktivitas, maka lebih banyak alur yang dipakai adalah anak sungai (telabah) di bendungan Ganda Meru menuju Banjar Lobong dengan jarak sekitar 750 meter dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Arusnya lumayan deras tanpa ada hambatan karena alur ini dibuat oleh proyek pemerintah untuk keperluan kelancaran pengairan pertanian (Subak). Tentu saja beberapa pemandu atau petugas keamanan tetap harus standby terutama di tempat yang dianggap rawan seperti di beberapa jeram yang sangat deras.
Sampai saat ini kebanyakan yang mencoba tubing ini dari wisatawan lokal baik dari desa sendiri maupun dari luar desa Sudaji. Harganya pun terbilang sangat murah dan reasonable.
Pokdarwis Desa Sudaji sudah mengembangkan wisata tubing ini sejak beberapa waktu lalu setelah diujikan pula aktifitas rafting. Beberapa alur yang dapat dipakai tubing diantaranya adalah sungai utama Sudaji. Namun belakangan ini, karena faktor efisiensi dan kepraktisan aktivitas, maka lebih banyak alur yang dipakai adalah anak sungai (telabah) di bendungan Ganda Meru menuju Banjar Lobong dengan jarak sekitar 750 meter dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Arusnya lumayan deras tanpa ada hambatan karena alur ini dibuat oleh proyek pemerintah untuk keperluan kelancaran pengairan pertanian (Subak). Tentu saja beberapa pemandu atau petugas keamanan tetap harus standby terutama di tempat yang dianggap rawan seperti di beberapa jeram yang sangat deras.
Sampai saat ini kebanyakan yang mencoba tubing ini dari wisatawan lokal baik dari desa sendiri maupun dari luar desa Sudaji. Harganya pun terbilang sangat murah dan reasonable.
RAFTING DI SUNGAI SUDAJI
Aktifitas petualangan bisa pula dikembangkan di desa Sudaji. Dengan memanfaatkan aliran air sungai yang jernih dan cukup deras serta pemandangan alam sekitar yang masih alami menghijau sangat mendukung kegiatan arung jeram ini yang lebih dikenal dengan rafting.
Kelompok Sadar Wisata atau POKDARWIS Desa Sudaji telah merintis wisata ini sejak beberapa bulan lalu, sekitar bulan Mei 2017.
Sungai Sudaji termasuk grade 3 yang mana jeram-jeram sungai aliran arus airnya terbilang sedang dan layak untuk diarungi dengan perahu karet (rafting). Minimal untuk anak-anak 10 tahun ke atas dapat mencoba kegiatan rafting ini. Tentu saja faktor keamanan dan keselamatan tetap diutamakan yaitu dengan perlengkapan jaket pelampung, helem dan dayung. Beberapa petunjuk oleh instruktur akan diberikan sebelum mengarungi sungai yang disebut Safety Talk yaitu penjelasan bagi peserta rafting yang akan mengarungi sungai seperti cara mendayung, cara memakai helem dan jaket yang benar, cara menyelamatkan diri ketika terjatuh ke sungai dan juga cara berenang yang aman.
Perjalanan rafting di Sungai Sudaji sekitar 1,5 jam dengan mengambil start di air terjun Lemukih (Fiji Waterfall atau Gerombong Waterfall) kemudian menyusuri hilir sungai yang menuju ke Desa Sudaji. Dalam perjalanan kita dapat menikmati alam yang sangat indah dan menawan, hutan yang masih alami serta lembah-lembah sungai yang memikat untuk dieksplorasi. Apabila kita perlu beristirahat sejenak, maka ada beberapa tempat pemberhentian yang cukup bagus untuk jeda sambil ngobrol atau mengambil foto-foto atau sekedar menikmati makanan atau merokok.
Ada satu tempat atau jeram yang sangat menantang namun tetap aman yaitu di bendungan Sanda yang berada di wilayah Abangan, Sudaji. Di dam ini ada jeram dengan ketinggian sekitar 3 meter dan dengan perahu karet kita bisa mengarunginya dan terjun bebas bersama rafting. Tentu saja ada rasa sensasional yang dapat dirasakan oleh peserta arung jeram. Nyali kita akan diuji saat detik-detik pengarungan dan hal ini sangat mengesankan.
Kemudian arung jeram ini dilanjutkan lagi sampai finish di Ganda Meru, yaitu suatu kawasan yang indah dengan bangunan damnya yang besar dan pemandangan dengan latar belakan bukit Sudaji yang mempesona. Di bendungan ini pula kita dapat berselfie ria sambil duduk beristirahat, ngobrol atau menikmati makanan dengan suasana pedesaan yang indah alami.
Kelompok Sadar Wisata atau POKDARWIS Desa Sudaji telah merintis wisata ini sejak beberapa bulan lalu, sekitar bulan Mei 2017.
Sungai Sudaji termasuk grade 3 yang mana jeram-jeram sungai aliran arus airnya terbilang sedang dan layak untuk diarungi dengan perahu karet (rafting). Minimal untuk anak-anak 10 tahun ke atas dapat mencoba kegiatan rafting ini. Tentu saja faktor keamanan dan keselamatan tetap diutamakan yaitu dengan perlengkapan jaket pelampung, helem dan dayung. Beberapa petunjuk oleh instruktur akan diberikan sebelum mengarungi sungai yang disebut Safety Talk yaitu penjelasan bagi peserta rafting yang akan mengarungi sungai seperti cara mendayung, cara memakai helem dan jaket yang benar, cara menyelamatkan diri ketika terjatuh ke sungai dan juga cara berenang yang aman.
Perjalanan rafting di Sungai Sudaji sekitar 1,5 jam dengan mengambil start di air terjun Lemukih (Fiji Waterfall atau Gerombong Waterfall) kemudian menyusuri hilir sungai yang menuju ke Desa Sudaji. Dalam perjalanan kita dapat menikmati alam yang sangat indah dan menawan, hutan yang masih alami serta lembah-lembah sungai yang memikat untuk dieksplorasi. Apabila kita perlu beristirahat sejenak, maka ada beberapa tempat pemberhentian yang cukup bagus untuk jeda sambil ngobrol atau mengambil foto-foto atau sekedar menikmati makanan atau merokok.
Ada satu tempat atau jeram yang sangat menantang namun tetap aman yaitu di bendungan Sanda yang berada di wilayah Abangan, Sudaji. Di dam ini ada jeram dengan ketinggian sekitar 3 meter dan dengan perahu karet kita bisa mengarunginya dan terjun bebas bersama rafting. Tentu saja ada rasa sensasional yang dapat dirasakan oleh peserta arung jeram. Nyali kita akan diuji saat detik-detik pengarungan dan hal ini sangat mengesankan.
Kemudian arung jeram ini dilanjutkan lagi sampai finish di Ganda Meru, yaitu suatu kawasan yang indah dengan bangunan damnya yang besar dan pemandangan dengan latar belakan bukit Sudaji yang mempesona. Di bendungan ini pula kita dapat berselfie ria sambil duduk beristirahat, ngobrol atau menikmati makanan dengan suasana pedesaan yang indah alami.
Selasa, 10 April 2018
SUDAJI ICONIC SELFIE SPOT
Ganda Meru mempunyai landscape yang indah dan menawan. Sungainya yang jernih sejuk, perbukitan Sudaji yang tinggi menjulang membentang indah di sepanjang aliran sungai Penarukan serta persawahan yang menghijau membuat tempat ini banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun manca negara.
Untuk lebih menarik minat wisatawan, maka Pokdarwis Ganda Meru Sudaji membenahi tempat ini dengan menata beberapa bagian yang dianggap bagus untuk dikembangkan. Salah satunya adalah tempat berfoto ria (Selfie) de atas bendungan sebelah timur dengan membuat background berupa tulisan "GANDA MERU" sebagai ikon wisata Desa Sudaji.
Desain ini sudah direalisasikan sejak bulan Desember 2017 lalu, dan kini tempat ini menjadi viral di medsos dan media cetak. Banyak wisatawan berdatangan ke tempat ini untuk membuat foto-foto (selfie) karena memang tempat ini sangat indah.
Untuk mencapai tempat ini sangatlah mudah. Jalan sudah beraspal mulus alias hot mix. Dari Singaraja kota terus ke arah timur, sampai di pertigaan Keloncing terus ke kanan manuju arah selatan sekitar 8 km sampai di Desa Sudaji. Kalau sudah sampai di lapangan sepak bola Sudaji, belok ke arah kanan menuju Banjar Dukuh sekitar 100 meter dan belok kiri lagi menuju arah bendungan Ganda Meru. Ikuti jalan itu sekitar 1 km sampai ke ujung jalan dan sampailah di parkiran bendungan Ganda Meru. Nah selamat menikmati.
Penasaran dengan tempat ini...???? hayooo berkunjung kesini..
Ganda Meru, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















































